Sumenep, Wartamadura.id – Kasus pembuangan bayi yang terjadi di Desa Kolor, Sumenep, bukan sekadar peristiwa kriminal yang berhenti pada penetapan tersangka. Ia adalah tragedi kemanusiaan. Seorang bayi yang bahkan belum sempat mengenal dunia, sudah lebih dulu dibuang oleh realitas sosial yang keras dan sunyi.
IMM Sumenep memandang peristiwa ini sebagai alarm keras atas rapuhnya sistem perlindungan sosial di daerah ini. Ketika seorang ibu memilih membuang darah dagingnya sendiri, maka ada tekanan sosial, ketakutan, stigma, dan keterasingan yang begitu besar bekerja di belakangnya. Dan di titik itu, pertanyaan yang lebih mendasar muncul: di mana negara sebelum tragedi itu terjadi?
Dinas Sosial sebagai institusi yang memegang mandat perlindungan dan rehabilitasi sosial tidak bisa hanya hadir setelah kasus mencuat ke publik. Peran sosial bukan sebatas administratif dan seremonial. Ia seharusnya hidup di tengah masyarakat—mendeteksi kerentanan, membaca potensi krisis, dan membangun jejaring perlindungan sebelum semuanya terlambat.
Berulangnya kasus pembuangan bayi di Sumenep menunjukkan bahwa ada ruang kosong dalam sistem pendampingan sosial. Ada kelompok rentan yang tidak tersentuh. Ada perempuan yang mungkin tidak tahu harus mengadu ke mana. Ada rasa malu yang lebih besar daripada rasa aman untuk mencari pertolongan. Jika ruang-ruang sunyi itu terus dibiarkan, maka tragedi akan selalu datang dengan wajah yang berbeda, tetapi akar persoalannya sama.
Kita tidak bisa terus-menerus memotret pelaku sebagai satu-satunya pusat kesalahan, sementara struktur sosial berjalan tanpa refleksi. Perlindungan anak bukan sekadar pasal dalam regulasi, dan rehabilitasi sosial bukan sekadar nomenklatur dalam dokumen kerja. Ia menuntut kehadiran yang nyata, empatik, dan preventif.
IMM Sumenep menilai bahwa tragedi ini adalah tamparan keras bagi sistem sosial di Kabupaten Sumenep. Jika institusi sosial tidak mampu menjadi tempat bernaung bagi mereka yang paling rentan, maka yang tersisa hanyalah respons setelah tragedi—bukan pencegahan sebelum kehilangan.
Bayi yang dibuang itu mungkin tidak akan pernah berbicara. Tetapi peristiwa ini berbicara sangat lantang tentang kegagalan kita membaca luka yang tersembunyi di tengah masyarakat. Dan itu seharusnya membuat kita semua gelisah.












